Kamis, 22 Oktober 2015

10 MANFAAT OBAT HERBAL

20 Jenis Tanaman Obat dan Manfaatnya - Indonesia adalah negara agraris yang terkenal akan kekayaan rempah rempah dan berbagai jenis tanaman. Dari dulu hingga sekarang tanaman herbal ataupun tanaman obat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tapi sayang sekali banyak warga Indonesia saat ini malah lebih memilih produk kesehatan luar negri dibanding negri sendiri. Padahal tak perlu jauh - jauh ke negri orang dengan biaya yang sangat mahal sekali, di negri kita jauh lebih kaya dan alami dalam segi pengobatan. Yuk kenali berbagai macam jenis tanaman obat diindonesia dan manfaatnya.
Tanaman Obat atau yang biasa kita sebut Tanaman herbal sangat banyak sekali jenisnya dan manfaatnya, dari mulai mampu mengobati penyakit kelas ringan bahkan penyakit sampai ke penyakit kelas berat. Selain itu Tanaman obat juga sudah banyak teruji ampuh dibandingkan dengan obat - obatan yang dicampur bahan kimia. Kalau begitu langsung saja ini dia beberapa tanaman obat yang bisa anda pakai sebagai Pengobatan Alternatif dirumah.

10 Tanaman Obat dan Khasiatnya

Tanaman Herbal

1. Seledri (Apium Graviolens)

Cara Mengobati Asam Urat Alami
Seledri



Mungkin tanaman yang satu ini tidak asing lagi bagi kita, selain enak dipakai sebagai penyedap rasa ternyata seledri juga berfungsi sebagai obat alami karena kaya akan kalsium, fosfor dll.
Contohnya seledri bisa dipakai sebagai Obat Asam Urat. Caranya Cukup rebus beberapa biji seledri untuk segelas air didihkan lalu minum setiap pagi.



2. Blustru (Luffa Aegyptica Mill)

Cara Mengobati Asma Alami dengan Blustru
Blustru

Blustru atau yang biasa disebut Ketela Manis ( Di Sunda disebut Lapang Oyom atau di Palembang disebut Hurung Jawa) merupakan tanaman obat keluarga yang telah diberikan secara turun temurun. Namun saat ini sudah jarang sekali yang menggunakan bahkan sebagian besar orang tidak tau bagaimana bentuk Tanaman Blustru itu. Blustru dapat digunakan sebagai Obat Asma, Caranya cuci telebih dahulu daun blustru muda simpan diatas nasi panas (bisa disimpan diatas ketika menanak nasi) lalu makanlah sebagai lalaban setiap hari.

3. Pasak Bumi atau Tongkat Ali (Eurycoma Longifolia Jack)

Cara Mengobati Ejakulasi Dini
Tongkat Ali



Tanaman ini di Indonesia tumbuh didaerah Kalimantan. Tongkat ali dapat membantu memperbaiki kadar testosteron pada pria dan menambah gairah sexual pada pria. Selain itu juga mampu menjadi Obat Ejakulasi Dini. Banyak Toko herbal menjual pasak bumi ini biasanya sudah berupa teh, kopi, berbentuk kering dll.


4. Mengkudu (Morinda Citrifolia)

Cara Mengobati jantung Koroner Alami
Mengkudu
Mengkudu memiliki nama yang berbeda - beda di setiap daerah contohnya di Sunda disebut Cangkudu, di Aceh disebut Keumeude, dan di Jawa diseut kudu. Tanaman ini biasa ditanam di aceh pada setiap rumah warga (walau tidak semua) karena biasa dipakai sebagai bahan rujak ataupun menu buka puasa khas aceh. Tapi taukah anda bahwa Mengkudu bisa menjadi Obat Jantung Koroner dan membantu mencegah penyakit jantung koroner. Caranya sangat mudah cukup jus mengkudu lalu saring air sarinya tambahkan sedikit madu dan minum 2 kali sehari setelah makan.


5. Lidah Buaya (Aloe Vera)

Cara Mengobati Kanker Alami
Lidah Buaya



Lidah buaya sejak zaman dahulu telah dipercaya sebagai bahan perawatan kecantikan dan obat. Saat ini dijepang sedang mengembangkan penelitian lidah buaya sebagai Obat Kanker. Saat ini sangat banyak sekali cara untuk memakan lidah buaya seperti Cendol ala Pontianak.



6. Buah Makasar (Brucea Javanica)

Cara Mengobati Kanker Serviks Alami
Buah Makasar

Tanaman ini memiliki rasa yang sangat pahit dan beracun. Namun apabila dipergunakan dengan baik dan sesui dengan dosis yang rumbuhan ini mampu menjadi mengobati Penyakit Diabetes Melitus karena dapat menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.
Selain itu Buah Makasar juga mampu menjadi Obat Kanker Serviks, Caranya bisa dengan menyeduhnya kedalam setengah cangkir  dan minum 2 - 3 kali sehari (Banyak Toko Herbal yang menjual Buah Makasar kering jadi anda tidak perlu susah susah menumbuk atau mengeringkannya sendiri).

7. Belimbing (Averrhoa Carambola)

Cara Menurunkan Darah Tinggi Alami
Belimbing



Belimbing manis banyak mengandung vitamin C, B, A, Protein, Kalsium dll. Belimbing.
Selain rasanya yang enak juga mampu mejadi Obat Kolestrol Tinggi dan Penurun Darah Tinggi. caranya cukup makan buah belimbing setiap hari sesudah makan.



8. Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza)

Cara Mencegah Kanker hati Alami
Temulawak


Temulawak merupakan tanaman obat indonesia yang memiliki kandungan Kurkumin yang berguna sebagai Anti Radang ataupun Anti Keracunan Empedu. Walaupun temulawak tidak mampu menjadi Obat Kanker Hati, namun temulawak mampu mencegahnya karena temulawak mampu mengobati Penyakit Hepatitis B yang berperan sebagai faktor utama Penyakit Kanker Hati.



9.  Daun Dewa (Gynura Divaricata)

Cara Mengobati Stroke Alami
Daun Dewa


Dari namanya aja udah kerenkan, Daun Dewa dipercaya mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan. Daun Dewa mengandung minyak atsiri, saponin dll. Daun Dewa bida digunakan sebagai Obat Penyakit Stroke ataupun Pencegah datangnya Penyakit Stroke. Mampu juga mengobati luka memar dan Penurun Darah Tinggi.



10.  Jarak (Ricinus Communis)

Cara Mengobati Hernia Alami
Jarak


Biasa disebut Kaliki di Jawa Barat Dulang di Sumatra dan Kalek Dimadura. Jarak memuliki manfaat pada karnya sebagai anti rematik dan mampu menenangkan. Pada bijinya terasa manis, pedas namun netral. Bijinya Banyak digunakan untuk Obat Kangker Rahim, Hernia, Rematik, TBC dsb. Namun ketika anda mengolah biji jarak menjadi herbal anda harus berhati - hati karena jika meminum obatnya berlebihan akan menimbulkan keracunan dengan ciri - ciri Sakit kepala, muntah berak, panas dll.



Sebenarnya tanaman obat sangat banyak sekali jenisnya. Dari berbagai daerah penjuru negri memiliki resep masing - masing dalam mengolah tanaman herbal. Ketika kita kembali ke obat alami segala jenis penyakit dapat di cegah dan diobati karena resikonya sangat kecil. Untuk itu perbanyaklah meminum minuman herbal seperti jamu dll agar tubuh lebih sehat.

Begitulah isi dari Manfaat Tanaman Herbal bagi Kesehatan. Jika bermanfaat silahkan share kepada teman anda dan sukai artikel ini. Terimakasih telah menyimak artikel ini.

Baca Artikel Terkait :

CARA MEMASANG KATETER

g kateterGambarGambar
  1. 1.      Tujuan
a)      Mendapatkan specimen urin steril
b)      Mengosongkan kandung kemih
  1. 2.      Persiapan A. Alat a. bak instrumen
    b. spuit 10 cc
    c. bengkok
    d. Handscoen
    e. aquadest
    f. gunting plaster
    g. perlak
    h. kateter
    i. Kapas air
    j. kasa
    k. Urine bag
    l. jelly/vaselin
    m.Selimut
  2. 3.       Obat a. Aquadest
    b. Bethadine
    c. Alkohol 70 %
  3. 4.      Prosedur
1)pada laki-laki
a)      Member tahu dan menjelaskan pada klien
b)      Mendekatkan alat-alat
c)      Memasang sampiran
d)      Mencuci tangan
e)      Menanggalkan pakaian bagian bawah
f)        Memasang selimut mandi, perlak dan pengalas bokong.
g)      Menyiapkan posisi klien
h)      Meletakkan dua bengkok diantara tungkai pasien
i)        Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
j)        Memegang penis dengan tangan kiri
k)      Menarik preputium sedikit ke pangkalnya, kemudian membersihkanya dengan kapas
l)        Mengambil kateter, ujungnya di beri vaselin 20 cm
m)    Memasukkan kateter perlahan-lahan jedalam uretra 20 cm sambil penis diarahkan ke atas, jika kateter tertahan jangan di paksakan. Usahakan penis lebih di keataskan, sedikit dan pasien di anjurkan menarik nafas panjang dan memasukkan kateter perlahan-lahan sampai urine keluar, kemudian menampung urine kedalam botol steril bila diperlukan untuk pemeriksaan.
n)      Bila urine sudah keluar semua anjurkan klien untuk menarik nafas panjang. Kateter di cabut pelan-pelan di masukkan ke dalam botol yang berisi larutan klorin.
  • o)      Melepas sarung tangan dan memasukkan ke dalam botol bersama dengan kateter dan pinset.
p)      Memasang pakaian bawah, menambil perlak dan pengalas.
q)      Menarik selimut dan mengambil selimut mandi.
r)       Membereskan alat.
s)       Mencuci tangan.
GambarGambarGambar
2) pada wanita
a)      Memberitahu dan menjelaskan pada klien.
b)      Mendekatkan alat-alat
c)      Memasang sampiran
d)      Mencuci tangan
e)      Menanggalkan pakaian bagian bawah
f)        Memasang selimut mandi,perlak dan pengalas bokong
g)      Menyiapkan posisi klien
h)      Meletakkan dua bengkok diantara tungkai pasien
i)        Mencuci tangan dan memakai sarung tangan.
j)        Lakukan vulva higyene
k)      Mengambil kateter lalu ujungnya diberi faseline 3-7 cm
l)        Membuka labiya mayora dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri sampai terlihat meatus uretra, sedangkan tangan kanan memasukkan ujung kateter perlahan-lahan ke dalam uretra sampai urine keluar,sambil pasien dianjurkan menarik nafas panjang.
m)    Menampung urine kedalam bengkok bila diperlukan untuk pemeriksaan. Bila urine sudah keluar semua ,anjurkan klien untuk menarik nafas panjang, kateter cabut pelan pelan di masukkan ke dalam bengkok yang berisi larutan klorin.
n)      Melepas sarung tangan dan masukkan ke dalam bengkok bersama dengan kateter dan pinset.
  • o)      Memasang pakaian bawah, mengambil perlak dan pengalas.
p)      Menarik selimut dan mengambil selimut mandi
q)      Membereskan alat
r)       Mencuci tangan
(Ambarwati dan Sunarsih;2009).
GambarGambarGambarGambar
– Melepas Kateter
            Melepas drainase urine pada klien yang dipasang kateter.
            Tujuan:
            Melatih klien berkemih secara normal tanpa menggunakan kateter.
            Peralatan  :
a)      Sarung tangan
b)      Pinset
c)      Spuit
d)      Batadine
e)      Bengkok 2 buah
f)        Plester
g)      Bensin
h)      Lidi wetan
Prosedur:
a)      Meberitahu pasien
b)      Mendekatkan alat
c)      Memasang sampiran
d)      Mencuci tangan
e)      Membuka plester dengan bensin
f)        Memakai sarung tangan
g)      Mengeluarkan isi balon kateter dengan spuit
h)      Menarik kateter dan anjurkan pasien untuk tarik nafas panjang, kemudian letakkan kateter pada bengkok.
i)        Olesi area preputium(meatus,uretra) dengan betadin
j)        Membereskan alat
k)      Melepaskan sarung tangan
l)        Mendokumentasikan.

Teknik Pemasangan Infus

Pemberian Cairan Intravena

Tujuan Utama Terapi Intravena:

1.      Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
2.      Memberikan obat-obatan dan kemoterapi
3.      Transfusi darah dan produk darah
4.      Memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi

Keuntungan dan Kerugian Terapi Intravena
Keuntungan:
*      Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat.
*      Absorsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan
*      Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi
*      Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari
*      Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis

Kerugian:
*      Tidak bisa dilakukan “drug Recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi
*      Kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speeed Shock”
*      Komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu:
§         Kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu
§         Iritasi Vaskular, misalnya phlebitis kimia
§         Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan   

Peran Perawat Dalam Terapi Intravena
*      Memastikan tidak ada kesalahan maupun kontaminasi cairan infus maupun kemasannya
*      Memastikan cairan infus diberikan secara benar (pasien, jenis cairan, dosis, cara pemberian dan waktu pemberian)
*      Memeriksa apakah jalur intravena tetap paten
*      Observasi tempat penusukan (insersi) dan melaporkan abnormalitas
*      Mengatur kecepatan tetesan sesuai dengan instruksi
*      Monitor kondisi pasien dan melaporkan setiap perubahan




Persiapan Infus dan Insersi Kateter pada Vena Perifer
Persiapan Pasien
*      Periksa rekam medis untuk mengetahui riwayat penyakit, alergi dan rencana perawatan
*      Periksa ulang perintah dokter mengenai cairan yang harus diberikan dan kecepatan tetesan.
*      Edukasi ( pendidikan) pasien mengenai:
§         Arti dan tujuan terapi intravena (I.V)
§         Lama terapi intravena
§         Rasa sakit sewaktu insersi (penusukan)
§         Anjuran:
                                       Laporkan ketidaknyamanan setelah insersi (penusukan)
                                       Laporkan jika kecepatan tetesan berkurang atau bertambah
  •  
    • Larangan:
                                      Mengubah/ mengatur kecepatan tetesan yang sudah diatur                                            dokter/perawat
                            Menarik, melepaskan, menekan, menindih infus set
                            Sesuai intuksi dokter, misalnya larangan berjalan


Persiapan Peralatan
*      Alat
  • Alat untuk kateter I.V. / Venocath
  • Prinsip: Pilih alat dengan panjang terpendek, diameter terkecil yang memungkinkan administrasi cairan dengan benar
      Lihat: Pedoman ukuran jarum kateter dibawah ini:
  • Ukuran  16
            Guna: – Dewasa
                                      – Bedah Mayor, Trauma
                                      – Apabila sejumlah besar cairan perlu diinfuskan
            Pertimbangan Perawat: – Sakit pada insersi
                                                  – Butuh vena besar
  • Ukuran 18
            Guna:   – Anak dan dewasa
                        – Untuk darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
            Pertimbangan Perawat: – Sakit pada insersi
                                                  – Butuh vena besar

  • Ukuran 20
  • Guna: – Anak dan dewasa
                                       – Sesuai untuk kebanyakan cairan infus, darah,                                      komponen darah, dan infus kental lainnya
                                                   Pertimbangan Perawat: umum dipakai                       
  • Ukuran 22
            Guna: – Bayi, anak, dan dewasa (terutama usia lanjut)
                              – Cocok untuk sebagian besar cairan infus

Pertimbangan Perawat:
     Lebih mudah untuk insersi ke vena yang kecil, tipis   dan     rapuh
              Kecepatan tetesan harus dipertahankan lambat
              Sulit insersi melalui kulit yang keras

  • Ukuran 24, 26
            Guna: – Nenonatus, bayi, anak dewasa (terutama usia lanjut)
                                     – Sesuai untuk sebagian besar cairan infus, tetapi                                               kecepatan tetesan lebih lambat
            Pertimbangan Perawat:
            – Untuk vena yang sangat kecil
            – Sulit insersi melalui kulit keras

*      Paket I.V line yang berisi: torniquet, kasa alkohol, povidone-iodine (alkohol 70 %), pisau cukur, kasa steril, plester, perban
*      Label
*      Papan untuk lengan
*      Alas/perlak
*      Alat untuk menggantung cairan infus
*      Sarung tangan untuk mencegah kontaminasi dari darah dan cairan tubuh pasien

2. Cairan
*      Pastikan kemasan dan tipe cairan sesuai instruksi dokter
*      Periksa kejernihan, kadaluarsa, kebocoran
            … cairan bervariasi dalam warna, tetapi tidak pernah tampak                 berawan, keruh atau separated
            … JIKA RAGU JANGAN DIPAKAI…..!

*      Dicantumkan informasi: nama perawat, nama pasien, nomor identifikasi pasien, nomor kamar, tanggal dan jam pemasangan infus, tambahan obat, no urut kemasan

 3. Infus Set
            – Sesuai untuk pasien dan kemasan cairan yang akan dipakai
            – Tidak ada retak, lubang atau bagian yang hilang

1.      Infusion pump atau infusion controller, jika diperlukan

Pemilihan Tempat Insersi
Petunjuk Umum:
*      Vena yang terlihat jelas bukan berarti vena yang terbaik
*      Pastikan tempat insersi dirotasi. Frekuensi rotasi tergantung bahan kateter:
                      Kateter Teflon atau Vialon perlu diganti setiap 48-72 jam
                      Kateter Aguavene dapat dipertahankan lebih lama
                      Kateter yang terpasang lebih dari 72 jam perlu diberi     alasan yang didokumentasikan dalam catatan perawatan        pasien
*      Tempat insersi perlu diganti jika terjadi kemerahan, edema, nyeri tekan, atau filtrasi
*      Pedoman pemilihan vena”
                       Gunakan vena-vena distal terlebih dahulu
                      Gunakan lengan pasien yang tidak dominan
                       Pilih vena-vena diatas area fleksi
                      Pilih vena yang cukup besar untuk aliran darah adekuat ke dalam           kateter

         Palpasi vena untuk tentukan kondisnya. Selalu pilih vena yang lunak, penuh dan yang tidak tersumbat
         Pastikan lokasi yang dipilih tidak akan mengganggu aktivitas pasien sehari-hari
         Pilih lokasi yang tidak akan mempengaruhi pembedahan atau prosedur-prosedur yang akan dilaksanakan
         Vena-vena superficial yang sering digunakan untuk infus IV pada bayi, anak dan dewasa
            A. Bagian atas tangan
          Metacarpal Veins
                                   Dorsal Venous Arch
                                   Cephalic Vein
                                   Basilic Vein
            B. Bagian bawah tangan
                                   Median antebrachial vein
                                   Accessory Cephalic Vein
                                  Median cuboital vein
                                   Cephalic Vein

  1. Membersihkan Tempat Insersi
  • Cuci tangan, lalu pakai sarung tangan
  • Jika perlu, jepit rambut diatas insersi agar vena lebih jelas dan untuk mengurangi rasa sakit sewaktu plester dilepas
  • Jangan mencukur, karena mencukur dapat menggores kulit, menimbulkan iritasi  jika terkena povidone-iodine/ alkohol dan menimbulkan resiko infeksi.
  • Bersihkan  dengan larutan povidone iodine (atau alkohol 70 % jika alergi terhadap iodine)
B          Menstabilkan Vena
  • Bila pasien kedinginan/ badan dingin/ pre-syok gunakan penghangat
  • Untuk memperbesar vena dapat digunakan posisi yang ditusuk lebih rendah daripada jantung. (Jika perlu gunakan manset tensimeter)
  • Pukul-pukul vena dengan lembut
  • Pasien diminta untuk membuka dan menutup kepalan tangan
C         Berikan anastesi lokal bila perlu
*      Siapkan alat-alat,lalu dekatkan ke pasien
*      Cuci tangan lalu gunakan sarung tangan
*      Pilih vena yang paling baik
*      Jika perlu, jepit rambut yang ada, agar vena terlihat jelas dan mengurangi sakit jika plester dilepaskan
*      Bersihkan area insersi dengan gerakan melingkar dari pusat keluar dengan larutan antiseptik dan biarkan mengering
*      Pasang torniquet 4-6 inci diatas tempat insersi
*      Fiksasi vena; letakkan ibu jari anda diatas vena untuk mencegah pergerakan dan untuk meregangkan kulit melawan arah penusukan.
*      Tusuk vena; pegang tebung bening kateter, bukan pusatnya:
              Metode langsung: tempatkan bevel jarum mengarah ke atas    dengan sudut 30-40 0  dari kulit pasien. Tusukan searah dengan   aliran vena: rasakan ‘letupam’ dan lihat adanya aliran darah.

Tehnik Pemasangan Infus
metode tidak langsung: tusuk kulit disamping vena, kemudia        arahkan kateter untuk menembus sisi samping vena sampai              terlihat aliran balik darah.
*      Rendahkan jarum sampai hampir sejajar dengan kulit
*      Dorong kateter ke dlam vena kira-kira ¼ – ½ inci sebelum melepaskan stylet (jarum penuntun), dan dorong kateter
*      Lepas torniquet dan tarik stylet
*      Pasang ujung selang infus atau tutup injeksi intermitten
*      Fiksasi kateter dan selang IV (lihat macam-macam fiksasi)
*      Atur kecepatan tetesan infus sesuai instruksi dokter
*      Pasang balutan steril
*      Label dressing meliputi tanggal, jam, ukuran kateter dan inisial/nama pemasang
*      Lepas sarungtangan dan cuci tangan
*      Rapikan alat-alat








Tehnik Fiksasi
*      Metode Chevron
– Potong plester ukuran 1,25 cm, letakkan dibawah hub kateter dengan bagian      yang berperekat menghadap ke atas.
– Silangkan kedua ujung plester melalui hub kateter dan             rekatkan           pada       kulit pasien
                       Rekatkan plester ukuran 2,5 cm melintang diatas sayap             kateter dan       selang infus untuk memperkuat, kemudian             berikan label

*      Metode U
            – Potong plester ukuran 1,25 cm dan letakkan bagian yang        berperekat        dibawah hub kateter
– Lipat setiap sisis plester melalui sayap kateter, tekan kebawah             sehingga paralel dengan hub kateter
                       Rekatkan plester lain diatas kateter untuk memperkuat.             Pastikan           kateter terekat sempurna dan berikan label
*      Metode H
            – Potong plester ukuran 2,5 cm tiga buah. Rekatkan plester       pada sayap kateter
Dokumentasi Terapi Intravena
Inisiasi:
  1. Ukuran dan tipe peralatan
  2. Nama petugas yang melakukan insersi
  3. Tanggal dan jam insersi
  4. Tempat insersi IV
  5. Jenis cairan
  6. Ada tidaknya penambahan obat
  7. Kecepatan tetesan
  8. Adanya pemakaian alat infus elektronik
  9. Komplikasi, respon pasien, intervensi perawat
  10. Pasien mengerti tindakan yang dilakukan terhadapnya

Maintenance
  1. Kondisi tempat insersi
  2. Pemeliharaan tempat insersi
  3. Pergantian balutan
  4. Pemindahan tempat insersi
  5. Pergantian cairan dalam infus set
  6. Pasien mengerti tindakan yang dilakukan terhadapnya.

Penghentian
  1. Jam dan tanggal
  2. Alasan dihentikan terapi IV
  3. Penilaian tempat insersi sebelum dan sesudah alat dilepaskan
  4. Reaksi dan komplikasi yang terjadi pada pasien, serta intervensi perawat
  5. Kelengkapan alat akses vena sesudah dipasang
  6. Tindaklanjut yang akan dilakukan (mis: memakai perban untuk tempat insersi, atau melakukan inisiasi di tungkai yang baru)


*      Tipe vena yang harus dihindari:

  1. Vena yang telah digunakan sebelumnya
  2. Vena yang telah mengalami infiltrasi atau phlebitis
  3. Vena yang keras dan sklerotik
  4. Vena-vena dari ekstremitas yang lemah secara pembedahan
  5. Area-area fleksi, termasuk antekubiti
  6. Vena-vena kaki karena sirkulasi lambat dan komplikasi lebih sering terjadi
  7. Cabang-cabang vena lengan utama yang kecil dan berdinding tipis
  8. Ekstremitas yang lumpuh setelah serangan stroke
  9. Vena yang memar, merah dan bengkak
  10. Vena-vena yang dekat dengan area yang terinfeksi
  11. Vena-vena yang digunakan untuk pengambilan sampel darah laboratorium

Cara Penusukan Cairan dengan Infus Set
*      kemasan infus set
*      Putar klem pengatur tetesan sampai selang tertutup
*      Pertahankan sterilitas penusuk botol
*      Buka penutup botol dengan tehnik aseptik atau antiseptik
*      Perhatikan arah menarik penutup
*      Tusukkan ujung penusuk infus set ke botol secara tegak lurus dengan menerapkan tehnik aseptik. Jangan diputar
*      Bila menggunakan botol gelas, pasang jarum udara
*      Tekan chamber sampai cairan terisi setengah
*      Naikkan ujung infus set sejajar chamber
*      Putar klem pengatur tetesan perlahan supaya udara mudah keluar
*      Jarak botol dengan IV catheter minimal setinggi 80 cm